JAKARTA - Langkah strategis penguatan bisnis pariwisata nasional kembali ditegaskan oleh PT Aviasi Pariwisata Indonesia atau InJourney.
Holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata ini menargetkan pengelolaan ratusan hotel dalam waktu dekat sebagai bagian dari konsolidasi bisnis yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Upaya tersebut menjadi sinyal keseriusan InJourney dalam menata ulang portofolio usaha agar selaras dengan fokus inti perusahaan.
Direktur Utama InJourney Maya Watono menyampaikan bahwa jumlah hotel yang akan dikelola InJourney akan meningkat signifikan. Dari sebelumnya 39 hotel, perusahaan menargetkan akan mengelola total 106 hotel pada 2026.
“Hotel sekarang yang dikelola kan ada 39, nanti tahun ini akan dikonsolidasi ke 106 hotel,” kata Maya.
Konsolidasi Hotel Masih Dalam Tahap Aksi Korporasi
Maya menjelaskan bahwa proses menuju target 106 hotel tersebut masih berada dalam tahap aksi korporasi. Berbagai langkah strategis sedang disiapkan untuk memastikan konsolidasi berjalan sesuai rencana dan tidak mengganggu stabilitas bisnis perusahaan.
Pembahasan mendalam terkait rencana konsolidasi ini juga tengah dilakukan bersama Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara sebagai pemegang saham InJourney. Namun, hingga saat ini, manajemen belum dapat membeberkan detail alasan di balik langkah konsolidasi tersebut kepada publik.
“Alasannya nanti mungkin dua sampai tiga bulan ke depan baru bisa saya ungkap,” ujar Maya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa konsolidasi ini bukan sekadar ekspansi kuantitas, melainkan bagian dari transformasi menyeluruh terhadap model bisnis InJourney.
Fokus Kembali ke Core Business
Menurut Maya, salah satu prinsip utama yang mendasari langkah konsolidasi adalah mengembalikan setiap entitas bisnis agar fokus pada core business masing-masing. Ia menilai, kejelasan fokus usaha menjadi kunci keberlanjutan bisnis di tengah dinamika industri pariwisata dan aviasi.
“Memang kami mengiring semua ini kembali kepada core business. Tidak lagi melakukan bisnis yang tidak sesuai dengan core bisnis,” kata Maya.
Ia mencontohkan bahwa bandara seharusnya berfokus pada layanan kebandarudaraan, sementara sektor perhotelan harus sepenuhnya berkonsentrasi pada bisnis hospitality. Dengan pemisahan fokus yang jelas, InJourney berharap dapat mengoptimalkan kinerja setiap lini usaha.
Pendekatan ini, lanjut Maya, bertujuan agar InJourney dapat menjalankan model bisnis yang lebih fundamental, efisien, dan berorientasi jangka panjang.
Model Bisnis Berkelanjutan Jadi Prioritas
Selain memperkuat struktur bisnis, konsolidasi hotel juga diarahkan untuk membangun ekosistem pariwisata yang berkelanjutan. Maya menekankan bahwa pertumbuhan bisnis InJourney harus sejalan dengan prinsip keberlanjutan lingkungan dan tanggung jawab sosial.
“Supaya InJourney fokus terhadap bisnis dan melakukan bisnis model yang fundamental dan berkelanjutan ke depan,” ujarnya.
Dengan pengelolaan hotel yang terintegrasi, InJourney menargetkan peningkatan standar layanan, efisiensi operasional, serta kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian nasional dan daerah destinasi wisata.
Komitmen Penurunan Emisi Karbon
Seiring dengan rencana penambahan jumlah hotel, InJourney menyadari bahwa peningkatan aktivitas bisnis juga berpotensi meningkatkan jejak karbon. Oleh karena itu, perusahaan menetapkan target ambisius dalam pengurangan emisi.
“Dengan bertambahnya hotel yang dikelola oleh InJourney, tentu karbon footprint yang dihasilkan juga turut meningkat. Kami berkomitmen untuk mengurangi emisi 4.000 ton karbon dioksida, dan komitmen ini akan kami laksanakan tahun ini dengan nyata,” kata Maya.
Pengurangan emisi tersebut menjadi bagian dari strategi Environmental, Social, and Governance (ESG) yang diusung InJourney dalam seluruh lini bisnisnya.
Implementasi Pengurangan Emisi di Berbagai Sektor
Maya menjelaskan bahwa pengurangan emisi karbon tidak hanya diterapkan di sektor perhotelan, tetapi juga di seluruh aset yang dikelola InJourney. Salah satu langkah konkret adalah pemanfaatan panel surya di bandara-bandara.
Saat ini, penggunaan panel solar telah diterapkan di 37 bandara. Selain itu, InJourney juga melakukan pengurangan konsumsi listrik di bandara serta meningkatkan efisiensi energi melalui berbagai inovasi operasional.
Di sektor perhotelan, pengelolaan sampah menjadi fokus utama. Manajemen sampah terpadu diterapkan untuk mengurangi limbah sekaligus menekan emisi karbon yang dihasilkan dari aktivitas operasional hotel.
Rehabilitasi Lingkungan dan Penanaman Mangrove
Tak hanya mengurangi emisi dari aktivitas operasional, InJourney juga aktif melakukan rehabilitasi lingkungan. Salah satu langkah yang ditempuh adalah pengembangan kawasan mangrove di beberapa destinasi strategis.
“InJourney juga akan mengembangkan beberapa area mangrove di Mandalika, Nusa Dua,” ujar Maya.
Selain mangrove, perusahaan juga melakukan penanaman pohon di berbagai aset destinasi yang berada di bawah pengelolaan InJourney. Langkah ini diharapkan memberikan dampak nyata bagi pelestarian lingkungan sekaligus mendukung daya tarik destinasi wisata.
Pelestarian Lingkungan Sebagai Fondasi Pariwisata
Menurut Maya, seluruh langkah pengurangan emisi dan rehabilitasi lingkungan tersebut merupakan bagian dari upaya pelestarian yang bersifat fundamental. Ia menegaskan bahwa pariwisata tidak dapat tumbuh tanpa keberlanjutan lingkungan.
“Ini kami lakukan untuk dampak nyata pelestarian lingkungan Indonesia, karena memang yang kami lakukan sebenarnya adalah pelestarian secara fundamental,” katanya.
Dengan strategi konsolidasi hotel, fokus pada core business, serta komitmen kuat terhadap keberlanjutan, InJourney optimistis dapat memperkuat perannya sebagai penggerak utama sektor pariwisata nasional sekaligus menjaga kelestarian alam Indonesia.