JAKARTA – Di tengah dinamika global dan fluktuasi pasar ekspor, PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD) memilih strategi yang tidak semata mengejar pertumbuhan penjualan.
Emiten produsen furnitur dan building components berbasis kayu ini justru membidik pertumbuhan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan, dengan menitikberatkan efisiensi dan optimalisasi margin.
Pendekatan tersebut mencerminkan kehati-hatian sekaligus optimisme manajemen dalam memanfaatkan peluang yang muncul dari pemulihan bertahap pasar perumahan Amerika Serikat (AS), yang selama ini menjadi tulang punggung bisnis ekspor WOOD. Di saat bersamaan, perseroan tetap melanjutkan strategi diversifikasi pasar dan produk guna memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang.
Investor Relations Integra Indocabinet, Ravenal Arvense, menyampaikan bahwa perseroan belum membuka secara rinci target pendapatan maupun laba bersih untuk tahun ini. Namun, arah strategi yang diambil jelas: WOOD ingin mencatatkan kinerja yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, dengan mempertimbangkan kondisi industri serta perkembangan pasar global.
Menurut Ravenal, terdapat beberapa faktor utama yang menjadi pendorong kinerja WOOD. Salah satunya adalah perbaikan bertahap di pasar perumahan AS yang didukung oleh penurunan suku bunga, sehingga mendorong kembali aktivitas konstruksi dan renovasi. Selain itu, kontribusi dari inisiatif diversifikasi produk dan pasar yang telah dijalankan juga diperkirakan semakin signifikan.
Di sisi internal, WOOD juga menaruh fokus besar pada peningkatan efisiensi operasional dan perbaikan margin. Upaya ini menjadi kunci agar pertumbuhan laba bersih dapat melampaui pertumbuhan penjualan. “Secara keseluruhan, Perseroan menargetkan pertumbuhan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan, didorong oleh peningkatan efisiensi operasional dan perbaikan margin, sehingga pertumbuhan laba bersih diharapkan melampaui pertumbuhan penjualan,” ungkap Ravenal.
Hingga saat ini, pasar ekspor masih menjadi kontributor utama pendapatan WOOD, dengan komposisi yang relatif stabil, yakni lebih dari 90%. Dari porsi tersebut, pasar AS tetap mendominasi dengan kontribusi sekitar 80%. Ravenal menegaskan besarnya potensi pasar tersebut bagi industri furnitur dan building components berbasis kayu.
“Pasar AS adalah pasar terbesar di dunia untuk furniture & building components berbasis kayu, bahkan lebih besar dibandingkan gabungan empat negara terbesar lainnya,” terang Ravenal.
Produk manufaktur building component menjadi penopang utama bisnis WOOD. Hingga kuartal III-2025, nilai ekspor building component tercatat mencapai Rp 1,76 triliun. Angka tersebut setara dengan 81,86% dari total penjualan WOOD yang mencapai Rp 2,15 triliun pada periode yang sama.
Dari sisi pertumbuhan, ekspor building component WOOD menunjukkan kinerja positif. Secara nilai, ekspor segmen ini meningkat 18,12% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut memperkuat keyakinan manajemen terhadap prospek bisnis WOOD pada 2026, terutama seiring membaiknya permintaan dari pasar perumahan AS.
Perbaikan permintaan di Negeri Paman Sam tidak terlepas dari kebijakan moneter yang lebih longgar, ditandai dengan penurunan suku bunga The Fed. Kondisi ini mendorong meningkatnya aktivitas konstruksi dan renovasi. Selain itu, posisi produk Indonesia yang masih dikecualikan dari tarif AS berdasarkan Annex II memberikan keuntungan kompetitif tersendiri bagi WOOD.
Situasi tersebut membuka ruang bagi perseroan untuk menangkap peluang dari pertumbuhan permintaan sekaligus pergeseran pangsa pasar building components di AS. Ravenal mengakui bahwa dinamika pasar global dan kebijakan perdagangan AS di bawah pemerintahan Donald Trump turut memicu volatilitas dan penyesuaian rantai pasok global.
Namun demikian, kondisi tersebut tidak semata menjadi tantangan. Ravenal menyoroti bahwa Brasil, yang saat ini menjadi eksportir building components terbesar ke AS, dikenakan tarif impor hingga 50%. “Sementara produk building components Indonesia masih dikecualikan dari tarif AS,” kata Ravenal.
Meski peluang terbuka lebar, WOOD tetap mengambil sikap waspada. Manajemen menilai penting untuk menjaga keseimbangan antara optimalisasi pasar AS dan percepatan strategi diversifikasi, guna memperkuat ketahanan bisnis di tengah ketidakpastian global. Oleh karena itu, strategi diversifikasi tetap menjadi agenda utama perseroan pada tahun ini.
Ekspansi ekspor WOOD akan terus menyasar pasar Eropa dan Timur Tengah. Langkah ini didukung oleh pengembangan produk baru, seperti flooring dan outdoor furniture. “WOOD terus memperkuat inisiatif diversifikasi yang telah dimulai sejak tahun lalu, yang diharapkan memberikan kontribusi lebih besar pada 2026 dan memperluas sumber pertumbuhan Perseroan,” jelas Ravenal.
Tidak hanya mengandalkan pasar ekspor, WOOD juga berupaya mengembangkan pasar domestik sebagai pelengkap strategi pertumbuhan. Seluruh langkah tersebut akan ditopang oleh belanja modal atau capital expenditure (capex) yang dilakukan secara selektif dan terukur.
Meski demikian, manajemen belum membeberkan besaran capex yang akan dikucurkan pada 2026. Ravenal hanya mengungkapkan bahwa alokasi capex tahun ini akan difokuskan pada peningkatan efisiensi dan produktivitas pabrik, pengembangan produk, serta mendukung inisiatif diversifikasi yang telah berjalan.
Dengan kombinasi optimalisasi pasar utama, efisiensi operasional, serta diversifikasi yang konsisten, WOOD berharap dapat menjaga kinerja yang solid dan berkelanjutan. Target pertumbuhan laba bersih yang melampaui pertumbuhan pendapatan pun menjadi cerminan strategi perseroan dalam menavigasi peluang dan tantangan industri ke depan.