JAKARTA - Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara berkomitmen untuk memberikan solusi hunian sementara (huntara) yang layak huni bagi para penyintas bencana banjir di Sumatera.
Setelah bencana yang melanda pada akhir November 2025, masyarakat di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat merasakan dampak yang luar biasa, dengan banyak rumah warga yang rusak parah.
Dalam menghadapi situasi ini, Danantara Indonesia menginisiasi program pembangunan huntara dengan kualitas yang tidak hanya memenuhi standar dasar, tetapi juga memastikan kenyamanan penghuninya, meskipun bersifat sementara.
Rohan Hafas, Managing Director Stakeholders Management BPI Danantara, menegaskan bahwa konsep pembangunan huntara yang digagas oleh Danantara berfokus pada kelayakan hunian yang tidak hanya mengutamakan struktur yang aman, tetapi juga aspek kenyamanan bagi para penyintas bencana.
Peninjauan yang dilakukan di Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, menjadi momentum penting untuk memastikan semua aspek pembangunan huntara ini dapat terwujud dengan baik.
Progres Pembangunan Huntara yang Pesat di Tiga Provinsi Terdampak Banjir
Danantara telah berhasil membangun 1.275 unit huntara di tiga provinsi yang terdampak, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Provinsi Aceh menjadi lokasi terbanyak dengan pembangunan 600 unit di Kabupaten Aceh Tamiang, sementara sisanya tersebar di sejumlah kabupaten dan kota lainnya.
Selain itu, Danantara juga merencanakan penambahan unit huntara lebih lanjut untuk memenuhi kebutuhan para korban yang masih belum mendapatkan tempat tinggal yang layak.
“Pembangunan huntara di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat ini adalah bentuk komitmen negara terhadap masyarakat yang kehilangan rumah akibat bencana,” ujar Rohan.
Pembangunan huntara ini juga melibatkan sejumlah badan usaha milik negara (BUMN) seperti Pertamina dan Mining Industry Indonesia (Mind.ID), yang turut mendukung proses pembangunan agar target dapat tercapai dengan baik.
Menjaga Kualitas dan Kenyamanan Huntara untuk Penyintas
Dalam hal spesifikasi, Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan agar huntara yang dibangun harus memperhatikan aspek kenyamanan dan kelayakan bagi calon penghuni. Hal ini disambut baik oleh Danantara yang memastikannya dalam setiap tahapan pembangunan.
Seluruh unit huntara yang dibangun dilengkapi dengan fasilitas dasar yang memadai, seperti ruang komunal, taman bermain anak, lapangan olahraga, serta fasilitas kebersihan seperti toilet dan kamar mandi.
Rohan Hafas juga menambahkan bahwa setiap unit huntara dirancang agar tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal sementara, tetapi juga dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi para penghuni.
Pembangunan Huntara di Sumatera Barat: Fokus pada Kecamatan Batang Anai
Untuk wilayah Sumatera Barat, Danantara telah membangun 250 unit huntara dan berencana untuk menambah 500 unit lagi. Di Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, sebanyak 40 unit huntara telah selesai dibangun, dan permintaan untuk penambahan 100 unit huntara telah disanggupi oleh Danantara.
Penambahan unit tersebut diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hunian sementara bagi masyarakat yang terkena dampak bencana.
“Pembangunan huntara di Batang Anai memang menjadi salah satu fokus utama kami di Sumatera Barat, dan kami akan segera memenuhi permintaan tambahan dari warga setempat,” tambah Rohan. Danantara memastikan tidak ada kendala dalam hal ketersediaan lahan untuk pembangunan tambahan huntara, sehingga proses pengerjaan dapat terus berjalan lancar.
Progres Pembangunan yang Menggembirakan: 90% Selesai di Padang Pariaman
Progres pembangunan huntara di Kabupaten Padang Pariaman mencapai 90 persen, dengan target penyelesaian penuh pada 24 Januari 2026. Setelah itu, huntara-huntara tersebut akan segera diserahterimakan kepada para penghuni yang telah divalidasi datanya.
Untuk memastikan keberlanjutan pembangunan, Danantara bekerja sama dengan PT Nindya Karya sebagai kontraktor, yang memastikan pembangunan berjalan tepat waktu dan sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan.
Sejumlah tenaga kerja lokal juga terlibat dalam pembangunan huntara ini, yang diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap ekonomi lokal.
Di Kecamatan Batang Anai, sebanyak 56 tenaga kerja lokal dan 100 tenaga kerja dari luar daerah turut berpartisipasi dalam proses pembangunan. Kehadiran tenaga kerja lokal ini diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat setempat.
Dukungan Komisi VI DPR RI untuk Pembangunan Huntara
Pada kesempatan yang sama, Komisi VI DPR RI yang turut hadir dalam peninjauan pembangunan huntara mengapresiasi kerja keras Danantara dalam memastikan pembangunan huntara berjalan sesuai rencana.
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, menyatakan bahwa Danantara telah bekerja optimal dalam menyediakan hunian yang layak bagi para korban bencana.
“Saya mengapresiasi apa yang sudah dilakukan Danantara karena sudah mendengarkan arahan Presiden mengenai spesifikasi huntara. Pembangunan huntara ini sangat penting, tidak hanya untuk memastikan tempat tinggal bagi korban bencana, tetapi juga untuk memastikan mereka dapat hidup dengan layak,” kata Andre.
Pentingnya Keterlibatan BUMN dalam Pemulihan Pasca-Bencana
Peran BUMN dalam pembangunan huntara sangat krusial. Selain PT Nindya Karya, beberapa perusahaan milik negara lainnya seperti Pertamina dan Mind.ID juga turut berperan dalam mendukung pemulihan pasca-bencana.
Kehadiran BUMN dalam upaya pemulihan ini menunjukkan bahwa negara hadir untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana dengan cara yang terkoordinasi dan efisien.
Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, termasuk lembaga pemerintah, BUMN, dan masyarakat setempat, proses pembangunan huntara dapat berjalan dengan lancar dan memenuhi kebutuhan para penyintas bencana.
Huntara Sebagai Solusi Sementara, tapi Berkelanjutan
Pembangunan huntara ini menjadi bagian dari strategi jangka pendek untuk memberikan tempat tinggal sementara bagi warga yang rumahnya rusak.
Namun, Danantara juga menggarisbawahi bahwa hunian sementara ini tidak hanya sekadar memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga memperhatikan kenyamanan dan kelayakan hidup jangka pendek bagi para penyintas.
"Walaupun sifatnya sementara, kami memastikan bahwa setiap unit huntara yang dibangun memenuhi standar kelayakan huni yang baik. Kami berharap hunian ini bisa memberikan rasa aman dan nyaman bagi para penghuni hingga mereka dapat kembali ke rumah mereka yang permanen," kata Rohan Hafas.